Ada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah di mana Allah bersumpah dengannya. Allah berfirman: 

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ. الفجر: 1- 2

Artinya: “Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.” (QS. al-Fajr : 1-2)

Yang dimaksudkan dengan malam yang sepuluh adalah malam sepuluh pertama bulan Dzul Hijjah, sesuai dengan yang masyhur di kalangan ulama. Allah bersumpah dengan kesepuluh malam ini tentunya karena kemuliaan dan keutamaannya. Allah bebas bersumpah dengan apapun yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Jika Allah bersumpah dengan sesuatu, pasti sesuatu tersebut mempunyai keutamaan. Ada yang berpendapat bahwa pada sepuluh malam pertama bulan Dzul Hijjjah inilah Allah menyempurnakan Musa ‘Alaihis Salam. Allah berfirman: 

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ ....  الأعراف: 142

Artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (QS. al-A’raf: 142)

Allah Maha Mengetahui yang sepuluh ini, yaitu sepuluh pertama dari bulan Dzul Hijjah. 

Allah berfirman: 

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ اْلأَنْعَامِ. الحج: 28

Artinya: ".... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rejeki yang telah Allah berikan berupa binatang ternak…” (QS. al-Hajj: 28).

Hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Mereka berdzikir kepada Allah pada kesepuluh hari ini. Di antara keutamaan hari ini karena di antara kesepuluh hari ini ada hari Arafah, yaitu tanggal 9 bulan Dzul Hijjah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan berpuasa pada hari ini. 

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ. رواه مسلم

Artinya: “Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Pada hari Arafah dijalankan rukun yang agung dalam haji, yaitu wuquf di Arafah. Pada hari ini semua umat Islam dari segala penjuru bumi berkumpul di satu tempat, yaitu Arafah. Mereka menjalankan satu rukun yang agung di tempat ini. 

Pada hari yang kesepuluh bulan Dzul Hijjah menjadi hari haji yang agung, yaitu hari raya kurban. Pada hari ini, jamaah haji menjalankan manasik haji mulai dari thawaf, sa’i, menyembelih sesembelihan, mencukur ataupun memperpendek rambut. Keempat manasik ini dimulai pelaksanaannya pada hari raya kurban tersebut. Oleh sebab itu, Allah menyebut hari tersebut dengan hari haji yang agung, sebab di sini dijalankan sebagian besar rukun haji. Ada haji kecil yang disebut dengan umrah. 

Pada hari kesepuluh tersebut, Allah memberikan anugerah yang agung. Para jamaah haji menjalankan manasik haji. Sedangkan umat Islam yang tidak berhaji mendirikan shalat hari raya Idul Adha. Semuanya mendekatkan diri kepada Allah. 

Pada kesepuluh hari bulan pertama bulan Dzul Hijjah banyak sekali keutamaan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: 

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامِ الْعَشْرِ - قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ. رواه البخاري

Artinya: “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)

Sepuluh malam pertama bulan Dzul Hijjah ada amalan di mana Allah lebih mencintainya dibandingkan dengan yang lain, bahkan walaupun jihad fi sabilillah. Hanya ada amalan yang melebihi amalan pada sepuluh malam pertama bulan Dzul Hijjah, yaitu orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun. 

Pada kesepuluh malam pertama bulan Dzul Hijjah ini, Allah mensyariatkan banyak amalan.

Pertama, berpuasa. Berpuasa pada Sembilan hari pertama disunnahkan kepada umat Islam yang selain menjalankan ibadah haji. Jamaah haji tidak berpuasa pada hari Arafah, tanggal 9 bulan Dzul Hijjah sebab mereka sedang menjalankan wuquf di Arafah. Sedangkan selain yang menjalankan haji, maka disunnahkan berpuasa yang pahalanya bisa menghapuskan dosa setahun yang lewat dan setahun yang akan datang. Ini adalah keutamaan yang diberikan Allah. Ada sebuah riwayat, Hafshah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada sepuluh hari pertama (bulan Dzul Hijjah).” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang tidak masalah. Sedangkan A’isyah adhiyallahu ‘Anha berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berpuasa pada sepuluh hari pertama (bulan Dzul Hijjah).” Hadis ini meniadakan, sedangkan hadis riwayat dari Hafshah menetapkan. Ketetapan didahulukan dibandingkan dengan peniadaan. Hafshah menjelaskan pasti bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, sedangkan A’isyah sepanjang yang dia tahu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berpuasa pada sepuluh hari pertama (bulan Dzul Hijjah). Artinya ada saat di mana A’isyah tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. 

Kedua, takbir. Takbir dikumandangkan mulai awal masuknya bulan Dzul Hijjah. Masuknya bulan Dzul Hijjah diramaikan dengan takbir pada siang dan malam sampai malam kesepuluh. Umat Islam memperbanyak takbir dengan membaca:  

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 Artinya: “Allah Mahabesar. Allah Mahabesar. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah.” 

Takbir ini diulang-ulang dengan mengeraskan suara. Konon para sahabat mengeraskan suara ketika bertakbir di sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Allah telah memberikan keistimewaan kepada kesepuluh hari ini. Maka, bertakbir di sepuluh hari pertama ini mutlak dilakukan.

Redaksi Albilad Pekalongan