Pada tanggal 9 Dzul Hijjah di Padang Arafah, disinilah para jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam satu tempat, satu waktu dan satu pakaian yang sama. Mereka mengangkat tangan dengan penuh khusyu’ seraya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar memperoleh ampunan dan belaian kasih sayang. Mereka shalat Dhuhur dan Ashar secara jamak dan qashar dengan satu adzan dan dua iqamat, serta memanjatkan berbagai macam doa.
Namun apakah yang dimaksud dengan Jabal Arafah itu?

  1.  Arafah atau Arafat menurut banyak ulama adalah sebuah nama yang sama yaitu salah satu tempat suci pelaksanaan ibadah haji (masyair haji) yang berada diluar tanah Haram. Dengan istilah yang mudah dan singkat jabal Arafat disebut juga dengan jabal Rahmah yang panjangnya mencapai 300 meter dan ditengahnya terdapat tugu tingginya mencapai 7 meter.
  2. Arafah dikelilingi pegunungan dan lembah Urnah yang terletak di jalan antara Makkah dan Thaif (sebelah timur kota Makkah yang jaraknya sekitar 22 km), sedangkan jaraknya dari Mina sekitar 10 km, dan dari Muzdalifah 6 km.
  3. Selain beberapa properti milik pemerintah, di Arafah sama sekali tidak ada penduduk atau kaum urban yang tinggal disini kecuali pada saat musim haji.
  4. Di Arafah terkenal dengan gunungnya, yaitu bukit kecil seperti gambut, yang disebut dengan jabal Rahmah, sebagian jamaah haji mendakinya pada hari wukuf. Wukuf dan kewajiban haji lainnya tidak hanya dikhususkan diatas gunung saja, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “aku wukuf disini dan Arafah seluruhnya adalah tempat untuk melakukan wukuf”.
  5. Hari Arafah memiliki keutamaan yang sangat agung, seperti diriwayatkan dari Nabi Saw bahwa hari Arafah adalah hari paling utama disisi Allah Ta’ala. 
  6. Ketika jamaah haji melaksanakan wukuf, dihadapan mereka berdiri tegak masjid Namirah. Namirah adalah sebuah gunung dimana Rasulullah Saw datang pada hari Arafah dan berada dalam tenda yang telah didirikan, setelah matahari tergelincir kemudian berkhutbah di lembah Urnah. Shalat Dhuhur dan Ashar dilaksanakan secara jamak dan qashar, setelah matahari terbenam beliau menuju ke Muzdalifah.
  7. Di awal masa pemerintahan daulah Abbasiyah pada pertengahan abad kedua hijriyah, dibangunlah masjid tepat di lokasi Rasulullah SAW dahulu berkhutbah pada haji wada’. Masjid itu sekarang dikenal dengan Namirah. Kemudian dari masa ke masa seiring berjalannya waktu sejarah mencatatnya telah mengalami beberapa kali perluasan hingga masa sekarang ini. Luasnya mencapai 124.000 meter persegi. Bangunan dirancang dua lantai dilengkapi dengan sistem pendingin ruangan dan klinik kesehatan, sehingga mampu menampung sebanyak 300.000 jamaah shalat. Pada hari Arafah jamaah haji mendatangi masjid Namirah untuk mendengarkan khutbah dari sang khatib, kemudian shalat Dhuhur dan Ashar dengan satu kali adzan dan dua kali iqamat, kemudian disyariatkan memperbanyak doa, mendekatkan diri dan banyak memohon kepada Allah SWT hingga matahari terbenam.
  8. Adapun lembah Urnah adalah termasuk bagian dari wilayah administratif lembah-lembah kota Makkah al-Mukarramah. Bagian depan masjid Namirah terletak di lembah Urnah ini dan berada diluar wilayah Arafah serta masuk dalam wilayah tanah halal. Disinilah letak batas pemisah antara tanah halal dan tanah haram.
  9. Di Arafah terdapat masjid as-Shahrat yang berada di bagian kaki gunung Rahmah dan berada di sebelah sisi kanan para pendaki. Masjid ini sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah, dikelilingi dengan dinding pendek dan didalamnya terdapat batu besar. Disinilah dahulu Rasulullah SAW wukuf di Arafah dan beliau berada diatas untanya.
  10. Tempat wukuf ini (Shahrat) dikelilingi tembok dari arah kiblat yang panjangnya mencapai 13.3 meter. Sedangkan dinding yang berada di sisi kanan dan kiri panjangnya 8 meter. Dinding yang berlawanan arah kiblat berbentuk cekung dan tidak lurus.

Albilad Pekalongan